Project Proposal April 2026

Walk-in Classification:
Applicable & Non-Applicable

Meningkatkan akurasi funnel dan kualitas analisis POS melalui klasifikasi walk-in berbasis kelayakan produk — menggantikan definisi Interest / Non-Interest.

± 80 – 82 POS Aktif ±4.800 Walk-in / Bulan Scope: D2C POS Channel Implementasi: Spreadsheet + PMO Notes
1 — Background

Mengapa klasifikasi ini dibutuhkan

POS merupakan channel direct-to-customer acquisition yang mengandalkan interaksi walk-in dari konsumen sekitar. Dengan ±80–82 lokasi aktif dan rata-rata ±2 walk-in per hari per POS, total walk-in mencapai ±160 per hari atau ±4.800 per bulan — menjadi sumber utama pipeline seluruh jaringan POS.

Namun saat ini terdapat tiga tantangan mendasar dalam evaluasi performa:

1
Definisi Interest/Non-Interest terlalu subjektif

Label "tidak minat" bergantung pada penilaian PPS, bukan kriteria objektif. PPS dapat secara tidak sadar men-drop konsumen yang sebenarnya masih bisa dikonversi, atau sebaliknya — melabel non-relevant sebagai "interested" untuk menjaga angka pipeline.

2
Conversion antar POS tidak bisa dibandingkan secara fair

POS dengan traffic tinggi sering terlihat memiliki conversion rendah meski sebagian traffic tidak relevan secara produk. Sebaliknya POS dengan traffic kecil terlihat lebih efisien. Distorsi ini menyesatkan diagnosis performa.

3
Market insight tidak terlihat dari data yang ada

Tanpa pemisahan antara traffic total dan qualified traffic, tidak bisa diketahui apakah masalah suatu POS berasal dari market mismatch, execution gap, atau keduanya. Intervensi menjadi tidak tepat sasaran.

2 — Project Objective

Tujuan project

Project ini bertujuan meningkatkan kualitas evaluasi POS dengan menambahkan layer klasifikasi berbasis kelayakan produk pada data walk-in — menggantikan definisi Interest / Non-Interest yang bersifat subjektif.

Secara spesifik, project ini bertujuan untuk:

  1. Mengganti label subjektif (Interest / Non-Interest) dengan klasifikasi berbasis kriteria objektif RAC
  2. Memisahkan antara traffic total dan qualified pipeline dalam analisis funnel
  3. Meningkatkan akurasi conversion rate sehingga Walk-in → Lead menjadi lebih representatif
  4. Mengidentifikasi komposisi walk-in per POS untuk diagnosis yang lebih tajam
  5. Memberikan insight yang membedakan masalah execution vs. masalah market

Scope yang dikecualikan: Project ini tidak mengubah struktur funnel operasional (Walk-in → Lead → Prospect → Go-Live), tidak mengubah proses kerja PPS di lapangan, dan tidak membutuhkan pengembangan sistem dalam tahap awal. Perubahan dibatasi pada penambahan layer informasi melalui field Notes di PMO Tools dan tracking spreadsheet.

3 — Key Principle

Dasar pemikiran

Walk-in channel secara natural menghasilkan traffic yang beragam. Tidak semua pengunjung yang datang ke POS memiliki aset atau kesiapan untuk melakukan pengajuan pembiayaan — dan ini bukan selalu cerminan kinerja PPS.

Oleh karena itu penting untuk membedakan secara tegas antara:

Traffic
Semua orang yang masuk POS
Dihitung dari total walk-in
Mencerminkan visibilitas & lokasi POS
Qualified Demand
Konsumen yang memiliki aset sesuai RAC dan potensi pengajuan
Dihitung dari Applicable walk-in
Mencerminkan kualitas market & execution

Klasifikasi Applicable / Non-Applicable berbeda dari Interest / Non-Interest karena dasar penilaiannya adalah kelayakan produk yang bisa diverifikasi (kepemilikan aset, kesesuaian RAC, ketersediaan BPKB) — bukan persepsi PPS terhadap motivasi konsumen.

4 — Walk-in Classification Framework

Tiga kategori walk-in

Setiap walk-in dikategorikan ke dalam tiga label berdasarkan kondisi aset dan kesiapan konsumen. Kategori ini dirancang agar mudah dipahami, konsisten digunakan, dan cepat ditentukan melalui pertanyaan screening yang sudah biasa dilakukan PPS.

Hot
Siap Proses
✓ Applicable — masuk pipeline
  • Kebutuhan dana jelas & dalam waktu dekat
  • Kendaraan sesuai kriteria RAC
  • BPKB tersedia dan siap digunakan
  • Dokumen utama sudah ada atau hampir lengkap
  • Bersedia lanjut proses pengajuan
Warm
Potensi Follow-up
✓ Applicable — perlu follow-up
  • Aset sesuai RAC, tapi belum bisa proses sekarang
  • BPKB masih di leasing atau proses balik nama
  • Dokumen belum lengkap
  • Perlu diskusi pasangan / keluarga terlebih dahulu
  • Dana belum dibutuhkan dalam waktu dekat
Cold
Non-Applicable
✗ Non-Applicable — tidak masuk pipeline
  • Tidak memiliki kendaraan yang bisa dijaminkan
  • Kendaraan tidak sesuai kriteria RAC (tahun, kondisi)
  • Membutuhkan produk di luar cakupan POS
  • Hanya mencari informasi umum tanpa aset
  • Tidak ada potensi pengajuan dalam kondisi apapun
Perbedaan Applicable vs. Interest

Applicable dan Non-Applicable menggantikan Interest dan Non-Interest dengan pergeseran dasar penilaian yang signifikan:

Dimensi Interest / Non-Interest (Lama) Applicable / Non-Applicable (Baru)
Dasar penilaian Motivasi & niat konsumen Kelayakan aset terhadap RAC
Tingkat objektivitas Tinggi subjektivitas — bergantung pada "feeling" PPS Lebih objektif — ada indikator konkret yang bisa diverifikasi
Risiko manipulasi data PPS bisa label konsumen potensial sebagai non-interest untuk jaga konversi Lebih sulit dimanipulasi karena berbasis fakta aset
Warm / Undecided Sering masuk Non-Interest karena "belum yakin" Warm tetap masuk Applicable — dicatat untuk follow-up
Implikasi ke conversion Denominator tidak stabil, sulit dibandingkan antar POS Conversion dihitung dari qualified base yang lebih konsisten
5 — Funnel Structure

Perubahan pada lapisan funnel

Project ini tidak mengubah struktur operasional funnel POS. Walk-in → Lead → Prospect → Go-Live tetap berjalan seperti biasa. Yang berubah adalah penambahan layer informasi kualitas traffic di atas funnel yang sudah ada.

1
Total Walk-in
Semua pengunjung POS — tetap dihitung keseluruhan, tidak ada yang dibuang
Applicable
Hot + Warm · masuk pipeline
Non-Applicable
Cold · dicatat sebagai market signal
2
Leads
Dihitung dari Applicable walk-in — bukan dari total walk-in
3
Prospect
Tidak berubah
4
Go-Live
Tidak berubah
Walk-in → Lead (historis, tetap ada) Traffic Quality Rate = Applicable ÷ Total Walk-in Conversion Rate = Lead ÷ Applicable
Walk-in total tidak dihapus dari laporan — tetap menjadi baseline perbandingan antar periode dan antar POS. Non-Applicable wajib dicatat, tidak boleh hilang dari data karena merupakan sinyal market yang penting untuk diagnosis lokasi.
6 — Operational Implementation

Cara implementasi di lapangan

Untuk menjaga kesederhanaan, perubahan operasional dibuat seminimal mungkin. Tidak ada perubahan sistem, tidak ada form baru, dan tidak ada langkah tambahan yang signifikan dalam proses kerja PPS.

Mekanisme Pencatatan

Dalam kondisi belum ada pengembangan sistem, klasifikasi dilakukan melalui dua cara:

  1. Field Notes di PMO Tools — PPS menambahkan tag [HOT], [WARM], atau [COLD] saat input data konsumen
  2. Tracking Spreadsheet — rekap harian/mingguan oleh koordinator atau SPV untuk agregasi data per POS
Panduan Pengisian Notes PMO Tools

PPS mengisi field Notes dengan format tag yang konsisten segera setelah interaksi awal dengan konsumen.

HOT · Siap Proses Diisi: saat interaksi pertama
[HOT] - [kondisi aset & kesiapan singkat]
[HOT] - BPKB mobil Toyota Avanza 2019, dokumen lengkap, butuh dana minggu ini
[HOT] - Motor Vario 2021 BPKB ada, repeat customer BFI, siap proses hari ini
WARM · Potensi Follow-up Diisi: saat interaksi + wajib isi tanggal FU
[WARM] - [kendala spesifik] - FU: DD/MM
[WARM] - BPKB motor masih di leasing, lunas sekitar bulan depan - FU: 10/05
[WARM] - Mobil 2020 aset ok, perlu diskusi suami dulu - FU: 14/04
[WARM] - STNK sedang diurus balik nama, estimasi selesai 2 minggu - FU: 25/04
COLD · Non-Applicable Diisi: saat interaksi pertama
[COLD] - [alasan singkat tidak applicable]
[COLD] - Motor 2008, di bawah tahun minimum RAC
[COLD] - Konsumen butuh KTA, tidak ada aset kendaraan
[COLD] - Tanya informasi umum saja, tidak ada kendaraan yang bisa dijaminkan
Decision Tree — Panduan Penentuan Kategori

Kategori ditentukan melalui 4 pertanyaan berurutan yang sudah menjadi bagian dari proses screening awal PPS. Tidak ada pertanyaan baru yang perlu ditambahkan.

1
Apakah konsumen memiliki kendaraan (motor/mobil) dengan BPKB yang bisa dijaminkan?
TidakTidak ada aset yang relevan →✗ COLD
YaLanjut ke pertanyaan berikutnya →
2
Apakah kendaraan memenuhi syarat minimum RAC? (tahun produksi, kondisi, kepemilikan)
TidakAset tidak sesuai kriteria →✗ COLD
YaLanjut ke pertanyaan berikutnya →
3
Apakah BPKB saat ini tersedia dan bisa langsung digunakan untuk pengajuan?
BelumMasih di leasing / proses balik nama — catat estimasi waktu →~ WARM
YaLanjut ke pertanyaan berikutnya →
4
Apakah konsumen bersedia dan bisa melanjutkan proses pengajuan sekarang atau dalam waktu sangat dekat?
BelumPerlu diskusi / dokumen kurang / timing belum tepat — jadwalkan follow-up →~ WARM
YaSemua syarat terpenuhi →✓ HOT
7 — Measurement Framework

Metrik dan cara evaluasi

Dengan adanya klasifikasi ini, evaluasi POS dapat dilakukan dengan dua lapisan analisis yang saling melengkapi — menggantikan satu angka conversion tunggal yang sebelumnya tidak bisa membedakan masalah traffic vs. masalah eksekusi.

Metrik Formula Insight
Traffic Quality Rate Applicable ÷ Total Walk-in Kualitas traffic dan relevansi lokasi terhadap target market produk
Applicable → Lead Rate Lead ÷ Applicable Walk-in Kemampuan PPS mengonversi konsumen yang sudah qualified — murni execution metric
Walk-in → Lead (historis) Lead ÷ Total Walk-in Tetap dipertahankan untuk perbandingan antar periode dan baseline historis
Warm Conversion Rate Warm → Lead ÷ Total Warm Efektivitas follow-up pipeline tertunda — mengukur disiplin tindak lanjut PPS
Non-Applicable Rate Cold ÷ Total Walk-in Indikator market mismatch atau targeting yang tidak tepat di area POS
8 — Insight yang Dihasilkan

Insight yang bisa dihasilkan di level jaringan

Data klasifikasi ini memungkinkan analisis yang sebelumnya tidak bisa dilakukan dengan data walk-in satu dimensi.

POS Performance Typology

Dengan kombinasi Traffic Quality Rate dan Conversion Rate, setiap POS dapat dikategorikan ke dalam empat tipe — memungkinkan intervensi yang lebih tepat sasaran:

Tipe POS Traffic Quality Conversion (Applicable → Lead) Diagnosis & Tindakan
Benchmark Tinggi Tinggi Lokasi ideal. Jadikan referensi dan replikasi pola kerjanya.
Execution Gap Tinggi Rendah Traffic qualified ada, tapi PPS gagal konversi. Fokus coaching & SOP enforcement.
Market Mismatch Rendah Tinggi PPS bagus, tapi traffic tidak relevan. Perbaiki targeting & messaging lokal.
Evaluasi Lokasi Rendah Rendah Market tidak sesuai DAN eksekusi lemah. Perlu review fundamental: lokasi, manpower, strategi.
9 — Pilot & Implementation Plan

Rencana pelaksanaan

1
Phase 1
Preparation
± 2 minggu
  • Finalisasi definisi Applicable / Non-Applicable beserta contoh edge case
  • Penyusunan decision tree dan panduan lapangan (1 halaman)
  • Setup tracking spreadsheet untuk rekap harian per POS
  • Sosialisasi kepada koordinator dan SPV area
2
Phase 2
Pilot Data Collection
1 – 2 bulan
  • PPS mulai mengisi tag [HOT] / [WARM] / [COLD] di Notes PMO Tools
  • Koordinator rekap data mingguan ke tracking spreadsheet
  • Fokus utama: membangun konsistensi pengisian, bukan analisis mendalam
  • SPV melakukan spot check untuk memastikan kualitas klasifikasi
3
Phase 3
Network Analysis
Setelah data 1 bulan terkumpul
  • Analisis komposisi walk-in per POS (% Hot, Warm, Cold)
  • Perhitungan Traffic Quality Rate dan Applicable → Lead Rate per POS
  • Pemetaan POS ke dalam 4 typology (Benchmark, Execution Gap, Market Mismatch, Evaluasi Lokasi)
  • Identifikasi intervensi yang tepat per tipe POS
4
Phase 4
System Enhancement
Menyesuaikan roadmap pengembangan sistem
  • Pengajuan penambahan field Walk-in Category di PMO Tools / Deep Brief
  • Otomasi reporting dan dashboard klasifikasi
  • Integrasi data klasifikasi ke dalam laporan performa rutin POS
10 — Expected Impact

Dampak yang diharapkan

Data Clarity

Walk-in tidak lagi diperlakukan sebagai satu dimensi tunggal. Data menjadi terstruktur dan bisa dianalisis dari dua sudut: kualitas traffic dan kualitas eksekusi.

Fair POS Evaluation

Perbandingan antar POS menjadi lebih adil. POS dengan traffic tinggi tapi banyak noise tidak lagi terlihat under-perform dibanding POS dengan traffic kecil tapi bersih.

Actionable Diagnosis

Manajemen dapat membedakan apakah masalah suatu POS berasal dari traffic composition, market mismatch, atau execution gap — sehingga intervensi lebih tepat sasaran.

Walk-in → Lead Improvement

Conversion dari Applicable ke Lead diharapkan lebih tinggi dan lebih stabil karena denominator lebih bersih — mencerminkan kemampuan PPS yang sesungguhnya.

Warm Pipeline Visibility

Konsumen yang sebelumnya "hilang" karena belum siap sekarang tercatat sebagai Warm dengan tanggal follow-up — mengurangi potensi kehilangan leads tertunda.

Market Intelligence

Pola Cold walk-in per area menjadi sinyal awal adanya market mismatch atau kebutuhan penyesuaian lokasi, targeting, atau messaging lokal.

11 — Key Design Principle

Prinsip yang mendasari desain project

Agar implementasi berhasil dan bisa bertahan di lapangan, project ini mengikuti tiga prinsip utama:

Prinsip 1
Simple

Hanya satu perubahan perilaku untuk PPS: menambahkan tag di Notes PMO Tools. Tidak ada form baru, tidak ada sistem baru, tidak ada langkah tambahan yang signifikan.

Prinsip 2
Non-Disruptive

Proses kerja PPS tidak berubah. Pertanyaan screening yang digunakan untuk menentukan kategori adalah pertanyaan yang sudah biasa ditanyakan — hanya ditambah tindakan pencatatan.

Prinsip 3
Analytical

Fokus utama adalah meningkatkan kualitas data untuk evaluasi POS — bukan menambah beban administratif. Setiap elemen yang ditambahkan harus berkontribusi langsung ke kualitas insight.